Sharing to Learning

Sunday, April 20, 2014

Diary Sang Zombigaret : Aku,rokok dan nyawa anakku

       
Sumber foto : http://thedesigninspiration.com
         Pagi itu tak ada yang berbeda dari hari-hari biasanya,aku bangun pagi-pagi dan membangunkan istriku untuk melaksankan tugas rumah tanggaku.Namaku mahmudin,biasa dipanggil udin.Aku hanya seorang tamatan SD yang bekerja sebagai buruh biasa. Sudah 30 tahun berumah tangga, tetapi baru 10 tahun yang lalu aku dikaruniai seorang anak lelaki. Semenjak kelahiran anak tersebut,aku tidaklah bekerja hingga larut malam lagi.Aku begitu mencintai anakku tersebut,Aku menamainya dengan nama soekarno dikarenakan  terinspirasi dengan sosok sang proklamator yang mempunyai jiwa pemberani,kepemimpinan yang tegas dan disegani oleh orang-orang hebat di belahan dunia.Aku lebih menyayangi anak lelakiku tersebut ketimbang istri dan diriku sendri.Aku menaruh modal besar padanya agar suatu kelak dia menjadi anak yang sukses.Aku tidak ingin ia mengikuti jejakku yang bekerja sebagai seorang buruh biasa,kadang suka dimarahi, dihina dan sering disudutkan oleh orang-orang.Seiring dengan berlalunya detak jarum jam,anakku terus tumbuh dan berkembang hingga ia menjadi seorang anak yang cerdas dan berprilaku baik.

     Dalam hidup ini,aku punya satu kebiasaan yang sangat sulit untuk aku tinggalkan,bahkan kebiasaan tersebut sudah menjadi hobi dalam kehidupanku.Aku tak tahu bagaimana cara agar aku dapat meninggalkan kebiasaan buruk tersebut.Bahkan kebiasaan burukku membuat permasalahan-permasalahn kecil datang dalam rumah tanggaku. Aku menghabiskan rokok setiap harinya sekitar 36 hingga 46 batang.Itu yang membuat istriku selalu merepet atas  ketidaknyamanannya terhadap asap yang aku hembuskan. Aku tidak mengira itu sebuah masalah yang besar.Aku tidak pernah tahu bahwa asap yang setiap kali kuhembuskan sangat berbahaya bagi kesehatan keluargaku,terlebih lagi bagi anak lelakiku.Yang aku tahu bahwa asap rokok hanya berbahaya bagi si perokok itu sendiri,tak lebih dari itu.Dan semenjak 45 tahun yang lalu ketika pertama sekali aku merokok hingga sekarang,aku tidak pernah merasakan penyakit yang dianggap serius ,hanya batuk-batuk  biasa yang aku rasakan. Semakin hari semakin banyak batang rokok yang aku habiskan.Istrik pun tidak sanggup untuk menasehati dan memarahiku lagi.Asap rokok pun sudah seperti awan-awan yang menghiasi  loteng rumahku.
Sumber foto : http://thedesigninspiration.com

        Aku bagaikan zombigaret yang hidup dengan sebelah tubuhku.Pergi bekerja yang  merupakan aktifitasku dulu,kini sudah jarang aku lakukan seiiring dengan kondisi fisik tubuhku yang semakin melemah.Aku bahkan tidak memikirkan lagi kehidupannku yang semakin tak berdaya ini.Dengan kondisi seperti ini,terpaksa istriku yang menggantikan pekerjaanku untuk mencukupi kebutuhanku dan anak lelakiku.Tetapi aku dan istriku masih dapat tersenyum dan bersyukur karena anak lelaki kami satu-satunya sudah tumbuh dewasa dan beberapa bulan lagi ia akan menjadi seorang sarjana muda,yang kelak akan membantu perekonomian keluarga.Mengenai dengan kebiasan burukku,sekarang aku tidaklah sanggup untuk menghabiskan berpuluh-puluh batang rokok.Hanyalah sekitar 5 hingga 8 batang saja yang dapat aku hisap perharinya.Ini karena kondisi tubuhku yang sudah tidak memungkinkan lagi.Bahkan aku tidak tahu kalau diriku menderita kanker paru-paru stadium 4.

          Hari wisuda anakku pun tiba dan aku bersama istriku sudah lama mempunyai keinginan untuk berfoto bersama keluarga kecilku.Karena sebelumnya kami tidak pernah berfoto bersama.Dan itu akan menjadi momen yang sangat indah dalam sepanjang hidupku.Namun naas tertimpa keluargku,secara tiba-tiba anakku terjatuh tergelatak sebelum berangkat diwisuda.Aku bersama istriku langsung panik dan segera mengangkat dan memeluk dirinya.Anakku memegang dada sambil menarik nafas perhalan dan mencoba untuk mengatakan beberapa patah kata,tetapi ia langsung pingsan tak sadarkan diri.Istriku yang sangat cemas langsung memanggilkan ambulan dan dibawalah anakku ke rumah sakit terdekat.Disana aku dan istriku menunggu sangat lama atas pemeriksaan dokter.Tak lama kemudian dokter yang menangani anakku keluar dengan raut muka yang sedikit menyesal sambil melayangkan pertanyaann kepadaku,“Anak Bapak merokok ?” “tidak” imbuhku dengan logat cemas. Dokter itu melanjutkan lagi dengan menanyakan“Apakah anda merokok ?” “Iya” jawabku lagi.” Dokter itu pun langsung mengatakan bahwa anakku telah menderita penyakit kanker paru-paru kronis yang berujung kematian.Kanker tersebut disebabkan karena anakku telah menghirup asap rokok yang aku hembuskan setiap harinya.Saat itu aku seperti orang yang kehilangan roh,seperti tak berdaya dengan penyesalan yang bertubi-tubi seraya memandang mayat anakku yang tak bersalah itu..
         Dan  akhrinya ceritaku berakhir tragis seperti dibawah ini ....

No comments:

Post a Comment