Sharing to Learning

Friday, August 29, 2014

Aku bertanya-tanya,Dimanakah AirAsia saat itu ?


Desember 2013 silam,cerita bermula ketika seorang ibu bersama dengan suaminya datang berkonsultasi kepada seorang dokter spesialis terhadap penyakit apa yang di alami oleh suaminya dalam beberapa tahun belakangan.

Kondisi yang tidak biasa serta  muncul beberapa gejala aneh menghampiri sang suami.Beberapa minggu sebelum dilakukan pemeriksaan,gejala seperti nyeri,demam dan menggigil terus menerus dialami bahkan tak jarang sang suami mengeluarkan air seni yang begitu pekat dan membuat kondisi tubunhya semakin memburuk.

Setelah melakukan proses pengecekan USG dan Rontgen,akhirnya si ibu berlapang dada menerima hasil dengan pernyataan bahwa kedua buah ginjal suaminya terisi oleh butiran-butiran batu kecil yang memenuhi hampir seluruh bagian dalam dan rongga-rongga ginjal.Dokter pun berpesan agar segera dilakukannya langkah bijak yaitu dengan cara operasi pengangkatan butiran-butiran batu tersebut yang sebagiannya sudah mengumpal menjadi butiran-butiran besar mengingat kerja alat vital tersebut sudahlah tidak sempurna dan sangat berbahaya jika tidak ditangani secepatnya.Tenyata penyakit batu ginjal terjangkit dalam tubuh sang suami ibu tersebut.

Setelah menerima kabar dari sang dokter,akhirnya sang ibu beserta suaminya pulang ke rumah dan menceritakan kepada anaknya atas penyakit apa yang dialami oleh sang bapak.Anak tersebut bukanlah orang lain melainkan diriku sendiri yang benar-benar terkejut dan kurang percaya atas penyakit batu ginjal yang didiagnosa oleh dokter kepada ayahku.

Ibuku berkata,"Ayah menderita  penyakit batu ginjal,nak ! Bagaimana ? Dokter menyarankan agar segera dilakukan operasi ! Apakah sebaiknya kita bawa saja Ayah ke Penang ?”,Tutur sang ibu dengan nada sedikit pelan.

Aku tahu perasaan ibu saat itu,aku bisa merasakan bagaimana keterikatan batin dan kecemasan  antara seorang suami dan isteri akan hal ini,akan tetapi sebagai seorang anak yang paling tua aku benar-benar berada dalam keadaan gelisah dan terbesit dalam benak apakah tanggungan merawat dan menghidupi ibu beserta adik-adik perempuanku akan jatuh dalam jabatanku ?

Kegelisahan tersebut benar-benar kuat lantaran orang-orang yang pernah mengalami penyakit batu ginjal akan dibatasi dalam bekerja khususnya dalam pekerjaan-pekerjaan berat,bahkan disarankan untuk banyak beristirahat dan melakukan olahraga-olahraga kecil.

Ow ya,sebelumnya ibuku berencana pengobatan ayah sebaiknya ditangani di rumah sakit yang ada di Pulau Penang,karena operasi di sana lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan RS di daerahku berdasarkan rekomendasi dari orang-orang yang pernah  ke sana termasuk saudaraku sendiri.Walaupun harga pengobatan dan akomodasi terbilang mahal karena selisih harga dan nilai mata uang,tetapi aku sedikit lega mengingat dana yang kami miliki begitu pas-pasan akan tetapi masih bisa diminimalisir lewat uang transportasi yang sangat merakyat lewat  maskapai AirAsia.

Aku sangat takjub dengan harga yang ditawarkan oleh maskapai AirAsia yang begitu cocok dengan masyarakat menengah kebawah,bahkan jika kita beruntung kita akan mendapat harga yang begitu fantastis bahkan mengalahkan harga tiket se-ekonomis transportasi bus.


Aku sangat mengidamkan bisa berkunjung ke luar negeri setidaknya ke negeri seberang Indonesia.Hal tersebut didukung oleh keingintahuanku akan kekayaan alam,historis,arsitektur dan nilai-nilai lainnya dari daerah tersebut.

Kesempatan dan momentum berkunjung keluar negeri pertamaku bukanlah angan-angan lagi karena rencana ibu untuk mengobati Ayah akan segera terealisasi mengingat operasi penyakit Ayahku harus segera ditangani secepatnya.

Perasaanku seakan bercampur aduk  antara senang dan gelisah.Disatu sisi aku benar-benar senang karena itu merupakan kunjungan pertamaku keluar negeri,sedangkan di sisi yang lain,Aku sangat gelisah dan berharap perjalanan,proses operasi dan penyembuhan penyakit Ayah dapat segera dilakukan.Tujuanku memang bukan untuk berlibur atau sekedar jalan-jalan,tetapi untuk mengobati penyakit Ayahku. 

Setelah niat dan tekad rencana pengobatan Ayah menuju titik akhir,hari berikutnya ibuku berkata, “ Nak,Coba kamu cek di internet berapa harga perjalanan pesawat kita bertiga (Aku,Ayah,dan Ibu) tujuan Banda Aceh – Penang.Disaat itu,aku letakkan laptop diatas meja dan menyambungkannya dengan modem serta langsung meluncur ke website AirAsia untuk memesan 3 lembar tiket.Alangkah bingungnya diriku mengapa setelah beberapa menit melakukan browsing,aku bahkan tidak melihat ada penerbangan maskapai AirAsia tujuan Banda Aceh – Penang,melainkan hanya terdapat rute Banda Aceh - Kuala Lumpur saja .Aku benar-benar  kecewa dan sedikit terkikis rasa menyesal mengapa rute Banda Aceh - Penang tidak terdapat dalam list website AirAsia ? Padahal antusias  masyarakat Aceh mengunjugi Pulau Penang ( Malaysia) untuk berobat sangatlah ramai bahkan lebih dominan ketimbang berobat ke daerah lain di Indonesia seperti Jakarta dan kota-kota besar lainnya.Tetapi yang sangat menyedihkan aku sudah terlanjur mengatakan pada ibuku kalau masalah harga tiket penerbangan jangan terlalu dikuatirkan karena aku pikir bakalan tersedia harga yang bersahabat yang akan ditawarkan oleh maskapai AirAsia.Bahkan aku sudah melakukan kalkulasi dan perbandingan-perbandingan dengan maskapai lainnya yang menurut  analisisku AirAsia benar-benar cocok bagi rakyat yang punya budget sederhana dan terbatas untuk sebuah penerbangan yang memukau.

Aku bertanya-tanya,dimanakah AirAsia saat itu ? Apakah kami sekeluarga tidak ditakdirkan untuk mendapatkan fasilitas maskapai penerbangan tersebut ? Aku rasa itu benar-benar sebuah ketidakadilan dalam aturan rute yang telah diterapkan.Tetapi aku menyadari bahwa bukan hanya kami sekeluarga yang kecewa atas aturan itu,mungkin diluar sana akan ada segelintir orang yang  merasakan hal yang sama seperti yang kami rasakan.Siapa manusia diluar sana yang memilih sesuatu yang mahal jika masih ada yang murah ? bahkan fasilitas yang ditawarkan tak kalah menarik ? secercah ide itu terbesit.


http://en.wikipedia.org/wiki/AirAsia
Terlepas dari hal tersebut,aku harus  melupakan sedikit penyesalan itu dan segera mencarikan tiket alternatif lainnya sebagai penerbangan karena waktu yang kami miliki tidaklah sebanyak buih di lautan mengingat kondisi Ayahku yang harus segera ditangani oleh tim medis.

Setelah semua persiapan selesai termasuk tiket penerbangan,beberapa hari kemudian aku beserta kedua orang tuaku berangkat menuju ke Penang dan tiba disana dalam keadaan selamat.Proses operasi penyakit Ayah pun segera ditangani dan kami ( ibu dan aku ) berharap agar semuanya baik-baik saja hingga sampai ke proses penyembuhan.

Hampir seminggu lebih aku menemani Ayahku dirumah sakit hingga surat rekomendasi pulang pun dokter berikan.Aku begitu senang dan bersyukur dengan kondisi fisik Ayah yang kembali membaik.Rasa gundah dan gelisah seakan terbang dengan sendirinya seiiring senyuman ibu dan Ayahku terpancar seperti dulu lagi.Para pasien lain yang dirawat satu ruangan dengan Ayah pun mengucapkan selamat berpisah karena selang hari berikutnya kami akan kembali lagi ke Indonesia.

Walaupun begitu,kami tidak meninggalkan pulau penang begitu saja.Rapid penang pun jadi kendaraan tur kami selama mengelilingi pulau industri tersebut.Pengalaman,kenangan,bahkan pelajaran banyak kami jumpai disana.


source : commons.wikimedia.org
Pada akhirnya,tibalah saat-saat terakhir perjalanan itu.Mungkin AirAsia bukanlah tumpangan kami untuk kembali ke tanah air,tetapi aku yakin suatu saat nanti kami juga akan  kebagian sapaan hangat pramugari maskapai internasional asal Malaysia tersebut.

No comments:

Post a Comment